Tuesday, April 12, 2016

Trip to Purwokerto


Sudah sejak lama saya ingin mbolang menuju purwokerto. Kesan akan kota ini yang tenang, tidak terlalu ruwet, dan aspek keterjangkauan dari Jakarta menjadi pertimbangan saya. Mulailah saya mencari info, serta merencanakan detail perjalanan menuju kota tersebut. Rencana awal perjalanan ini pp menggunakan transportasi favorit yaitu bus, tetapi terbuka juga untuk model transport lain disesuaikan dengan waktu dan efektivitas.
Untuk keberangkatan saya memilih menggunakan bus sinar jaya, karena belum pernah mencoba PO yang satu ini, serta keberangkatan bus ini pukul 18.00 tidak mengganggu aktivitas di siang hari. Jumat, 1 April 2016  pukul 09.00 WIB saya menuju kantor sinar jaya di lebak bulus, bermaksud untuk memesan tiket pemberangkatan sore hari, tetapi oleh pihak kantor belum bisa memastikan karena bus belum datang. Ok saya memutuskan untuk go show di sore harinya saja. Pukul 15.00 WIB saya berangkat dari rumah di pamulang menuju lebak bulus menggunakan jasa ojek online, cukup 15rb untuk sampai di lebak bulus. Pukul  15.45 saya sampai di lebak bulus, segera menuju loket sinar jaya dan memesan tiket tujuan purwokerto pemberangkatan terakhir. Dijawab oleh pihak ticketing bahwa pemberangkatan terakhir tujuan purwokerto pukul 18.30 untuk kelas bisnis ac dan 17.30 untuk kelas eksekutif. Saya segera booking seat pemberangkatan pukul 17.30 nomor 1 dan 2.
Setelah tiket berhasil diamankan, saya sejenak melihat pemandangan lebak bulus di sore hari. Eh ada penampakan Muji Jaya MD 005, Mercedez Benz OH 1525 Jetbus HD2 rombak garasi.

Pukul 17.15 WIB partner touring saya sampai juga di lebak bulus. Sebelum berangkat kami memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu dikarenakan sinar jaya tidak mendapatkan service makan. Pukul 18.00 WIB bus tak kunjung datang, sudah molor 15 menit dari waktu keberangkatan. Didapat info bahwa bus terjebak macet di tol (efek jumat sore), sehingga penumpang dimohon sabar menunggu. Pukul 18.15 bus yang akan kami tumpangi akhirnya sampai di lebak bulus, penumpang segera dipersilahkan untuk naik ke dalam. Berikut penampakan busnya

Tidak bisa foto full body karena parkir yang sempit dan banyak orang. Sinar Jaya yang saya tumpangi berkode 30RB, dapur pacu Hino RN 285, konon katanya sudah built in air suspension dari pabrikan. Entah kenapa chasiss ini dibalut dengan tipe Jetbus Non HD dari Adi Putro, padahal pendahulunya sudah banyak yang berbody HD baik RK atau RN.
Pukul 18.25 WIB bus resmi diberangkatkan dengan okupansi 21 penumpang. Menyusuri jalan yang padat di jumat malam, bus langsung masuk tol. Lalu lintas yang padat, serta ac yang pas (tidak terlalu dingin) membuatku langsung tertidur. Bangun sudah masuk rest area KM 19 untuk kontrol penumpang. Masuk tol kembali dengan speed yang slow, kembali saya tertidur. Baru bangun masuk tol cipali, masih dengan speed yang slow. Beberapa kali saya rasakan suspensi RN ini gemlodak ketika melibas jalan yang kurang mulus, kurang tahu ada problem apa ataukah hanya perasaan saya saja.
Di tol melaju dengan sangat santai, aksi netral menemani sepanjang perjalanan. Baru beberapa KM beranjak dari gerbang tol cikopo, langsung diseset Nu3tara black pearl entah HS berapa dari sebelah kanan, sepertinya angkatan rawamangun. Nu3tara langsung hilang ditelan gelapnya tol cipali. Melewati Taman Sari Cipali terlihat Nu3tara yang tadi mendahului kami sedang istirahat service makan bersama dengan MJCM. Beberapa saat kemudian kembali kami diasapi oleh duet New Shantika Rawamangun (SE dan Seri 9) yang berjalan beriringan dan langsung menghilang.
Sekitar pukul 21.00 WIB bus exit tol untuk istirahat di RM Taman Selera. Disini saya membeli mie cup seharga 10rb.  RM ini sangat luas dan menjadi tempat istirahat barisan sinar jaya, DMI, serta sumber alam. Sekitar 30 menit waktu istirahat, bus kembali diberangkatkan. Pukul 21.30 WIB bus resmi angkat jangkar meninggalkan RM Taman Selera, masih dengan driver pertama dan satu2nya (baru tahu kalau ternyata sinar jaya menerapkan sistem sopir engkel). Bus kembali dipacu dengan aksi netral di jalan tol, sampai akhirnya saya tertidur kembali.
Bangun2 bus sudah masuk ke dalam suatu rumah makan (entah RM apa), yap ini merupakan istirahat yang kedua pada perjalanan kali ini. Melihat jam pukul 01.30, saya pun turun untuk sekedar membeli kopi panas. Kembali mengabadikan si 30RB

Disini pula terjadi oper penumpang antar bus sinar jaya dengan berbagai tujuan, sayangnya seperti tidak terkoordinir dengan baik. Crew bus seperti tidak memperhatikan penumpang yang akan oper bus, jadi penumpang sendiri yang mencari2 bus tujuannya masing2 (mungkin perasaan saya saja ya, kalau penumpang SJ sepertinya sudah biasa, hehe).
Pukul 02.00 WIB bus resmi diberangkatkan kembali, menyusuri jalan yang berkelok dan kontur yang tidak mulus.  Disini sangat terasa suspensi RN gemlodak saat melibas jalan berlubang. Di jalan ini banyak kres dengan bus diantaranya Rosalia Indah, Pahala Kencana, dan Lorena. Banyak penumpang yang turun di sepanjang jalan sampai dengan kami tiba di Terminal Purwokerto. Kami memutuskan turun di pintu masuk terminal karena jam masih menunjukkan pukul 04.00 WIB, langsung naik taksi dengan tujuan tempat istirahat. Tarif taksi dalam kota purwokerto adalah 25rb.
Pagi hari kami berencana untuk jalan2 ke Baturaden. Pukul 09.00 WIB kami sewa motor dengan biaya 115rb (24 jam). Dalam perjalanan menuju baturaden kami tertarik untuk mampir di tempat yang menjual es duren. Letaknya ada di depan Korem Purbalingga, dan disebut Es Duren Purbalingga. Satu porsi es duren dibandrol dengan harga 15rb rupiah, harga yang cukup mahal menurut saya, hehe. Berikut penampakannya

Setelah kami coba es duren ini ternyata tidak mengecewakan, sesuai dengan harga yang dibandrol (efek terlalu dini menjustifikasi). Kualitas durian yang digunakan menurut saya sangat baik, sehingga sangat terasa durennya.
Setelah makan es duren, kami melanjutkan perjalanan menuju baturaden. Perjalanan menuju baturaden kami tempuh sekitar 30 menit, dengan udara yang segar dan hawa yang sejuk. Sekitar pukul 09.45 WIB kami sampai di baturaden. Segera kami parkir motor dan masuk ke taman wisata, tentunya setelah beli tiket. Tiket untuk masuk taman wisata ini dibandrol sebesar 14rb/ orang. Berikut penampakan taman wisata baturaden ini


Kami berjalan2 di taman ini, ada berbagai macam wahana yang ditawarkan. Kami memutuskan untuk mencari pemandian air panas belerang sehingga berjalan menuju pancuran tiga. Setelah sampai di pancuran tiga, kami terkejut karena kolam pemandian cukup kecil dan diisi oleh banyak orang. Kami pun memutuskan untuk jalan menuju pancuran tujuh. Diluar dugaan, perjalanan menuju pancuran tujuh ini melalui jalan setapak yang sangat sepi diantara hutan.




Lewatin sungai2 kecil yang jernih



Setapak demi setapak jalan ini kami lalui, belum terlihat ada ujungnya. Pemandangan yang sangat indah sedikit mengobati rasa lelah kita. Sampai akhirnya setelah bejalan kurang lebih 3KM (based on perasaan) kami tiba di rest area (tol mana yak?), warung kecil yang menjajakan beberapa makanan, dan kami beristirahat disitu. Penasaran karena belum terlihat tanda2 pancuran tujuh, kami akhirnya menyerah dan bertanya kepada penjaga warung. Dijawab oleh beliau bahwa pancuran tujuh masih sekitar 500 meter mengikuti jalan setapak. Sedikit view dari rest area


Hati kami teguhkan, kaki kami kuatkan, nafas kami panjangkan untuk sampai di pancuran tujuh. Kembali jalan setapak kami lewati, beberapa saat kemudian penantian panjang itupun akhirnya terjawab, titik cerah gerbang masuk pancuran tujuh telah terlihat. Dan yang terlihat di depan gerbang tersebut adalah parkiran saudara2. Banyak mobil dan motor yang ada di parkiran tersebut. Kami hanya bisa melongo melihatnya, dan usut punya usut ternyata untuk mencapai pancuran tujuh memang mostly menggunakan kendaraan dikarenakan jarak dari bawah sekitar 6-7 KM, what???
Ah daripada mikir yang tidak2 lebih baik kita masuk saja, dan ternyata dikenakan tiket kembali sebesar 10rb/ orang. Yap masuk ke dalam masih jalan kembali ±200 meter, dan akhirnya dapat melihat pancuran tujuh


Celingak celinguk tidak ada kolam untuk mandi belerang, dan hanya ada kamar mandi yang disewakan sebesar 5rb/15 menit. Ok lah kita memutuskan untuk mandi belerang di tempat tersebut, ternyata di depan kamar mandi ada yang menawarkan sekalian pijat dengan belerang, yasud sekalian kita dipijat, kasihan kaki kami yang telah kami paksa kerja rodi untuk mengantar kami. Skip setelah ritual lulur, pijat, dan berendam  (air belerangnya panas bgt, tp lama2 terbiasa), kami pun kelaparan dan segera menuju warung  yang banyak berada disitu. Dan menunya sudah pasti mendoan, serta teman2nya (tahu, bakwan, singkong, pisang), ada juga mie rebus atau goreng.
Setelah kenyang kami segera kembali ke parkiran untuk turun ke bawah, katanya sih ada angkot menuju ke bawah (gak kebayang kalo musti jalan lagi ke bawah). Yap sampai di parkiran kita tanya sama bapak sopir angkotnya
Ane: ke bawah pak?
Sopir Angkot: ya iya lah, masa ya iya donk
A: msh nggu penuh ya pak?
SA: namanya jg angkot, kalo gk ngetem busway namanya
Dan pemirsa, belum ada satu pun insan manusia di angkot tersebut. Ok lah mari kita coba untuk menunggu sambil menyusun strategi, karena setahu saya yang sampai di atas jalan kaki ya cuma kami, artinya orang lain akan turun menggunakan kendaraan mereka masing2, jika digabungkan antara pernyataan 1 dan 2 akan menghasilkan kesimpulan bahwa angkot tersebut tidak akan mungkin penuh penumpang. Sambil menunggu dan mengusir kebosanan kita selfie dulu

Setelah menunggu sekitar 1.5 jam tidak ada kemajuan yang berarti alias pak sopir menggantung status kita. Ok berbekal muka tebal hasil masker belerang saya memberanikan diri meminta ijin nebeng pada sebuah keluarga yang menggunakan mobil. Yap akhirnya saya berhasil meyakinkan keluarga tersebut bahwa saya bukan kriminal dan mengijinkan kami untuk ikut nebeng sampai bawah. Dan akhirnya kami melambaikan tangan kepada pak sopir angkot dari mobil pick up yang membawa serta kami, kaburrr.
Melewati jalan turun naik, berkelok, serta aspal yang rusak terobati dengan pemandangan yang disuguhkan, pohon2 besar menjulang, sangat indah. Sampai di bawah kami turun dan tak lupa berterima kasih banyak atas tumpangan yang diberikan. Karena hari sudah semakin sore kami bergegas menuju parkiran motor dan segera kembali ke purwokerto.
Keesokan hari, 3 April 2016 kami bangun pagi2 untuk sekedar ingin melihat suasana purwokerto di minggu pagi. Rencana awal mau ke alun2 eh ternyata dari jauh sudah distop dikarenakan ada acara car free day. Ok kita putar2 kota saja sampai akhirnya kita menemukan sebuah taman namanya bale kemambang. Kami pun berhenti di taman itu, mau masuk ternyata bayar tiket 2.5rb/ orang. Begini suasana taman di dalam


Banyak keluarga yang menghabiskan waktu minggu pagi di taman ini. Menurut saya taman ini sangat bagus, bersih dan terawat. Pengunjung bisa berjalan2 atau duduk santai di taman ini. Anak2 biasanya suka ngasih makan ikan yang ada di kolam, ikannya banyak banget. Menjelang pukul 09.00 WIB kami bergegas kembali karena rencana kepulangan kami pukul 12.12 WIB via stasiun purwokerto. Beres packing kami segera menuju jalan untuk mencari transport umum menuju stasiun. Bertanyalah kami pada seseorang di pinggir jalan, dan bak gayung bersambut beliau menawarkan kami untuk naik becaknya (ternyata bapak driver becak) seharga 25rb untuk sampai di stasiun. Kami terima tawaran beliau dan becak pun segera meluncur.
Pukul 11.00 WIB becak pun telah sampai di stasiun, kami turun dan tak lupa berterima kasih (sambil bayar tentunya, ini kan bukan nebeng lagi). Kami pun mengisi perut terlebih dahulu di depan stasiun, antisipasi kelaparan di kereta. Menjelang pukul 12.00 WIB kami segera masuk ke peron, tunjukkan tiket dan ID kita kepada petugas. Beberapa view dalam stasiun


Terdengar pengumuman bahwa KA Bogowonto tujuan Pasar Senen mengalami keterlambatan sekitar 40 menit. Ok kita tunggu sambil melihat beberapa kereta yang lewat. Pukul 12.55 WIB akhirnya kereta yang ditunggu2 datang juga. Kami segera masuk ke dalam gerbong dan mencari tempat duduk kami. Beberapa saat kemudian kereta mulai berjalan meninggalkan purwokerto menuju Jakarta. Cukup nyaman kereta berlabel ekonomi ini, AC berfungsi cukup baik, penumpang pun tertib di tempat duduk masing2, semoga pelayanan PT KAI dapat terus ditingkatkan.
Sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan sawah, kebun, dan perbukitan nan hijau. Kami pun segera terbuai ke alam mimpi efek dari hembusan AC yang sejuk dan pemandangan yang hijau. Terbangun kereta masih konsisten di rel, belum keluar jalur, apalagi blong kanan. Mungkin inilah yang membuat saya kurang begitu suka naik kereta, perjalanan serasa monoton (pendapat subyektif tentunya). Daripada bosan kita selfie dulu

Pukul 18.30 WIB akhirnya kereta touchdown di stasiun pasar senen, lebih lambat ±30 menit dari jadwal. Demikian report perjalanan saya menuju purwokerto, ingin rasanya kembali berkunjung kesana suatu saat nanti. Terima kasih  


No comments:

Post a Comment