Sudah sejak lama saya ingin
mbolang menuju purwokerto. Kesan akan kota ini yang tenang, tidak terlalu
ruwet, dan aspek keterjangkauan dari Jakarta menjadi pertimbangan saya.
Mulailah saya mencari info, serta merencanakan detail perjalanan menuju kota
tersebut. Rencana awal perjalanan ini pp menggunakan transportasi favorit yaitu
bus, tetapi terbuka juga untuk model transport lain disesuaikan dengan waktu
dan efektivitas.
Untuk keberangkatan saya memilih
menggunakan bus sinar jaya, karena belum pernah mencoba PO yang satu ini, serta
keberangkatan bus ini pukul 18.00 tidak mengganggu aktivitas di siang hari.
Jumat, 1 April 2016 pukul 09.00 WIB saya
menuju kantor sinar jaya di lebak bulus, bermaksud untuk memesan tiket
pemberangkatan sore hari, tetapi oleh pihak kantor belum bisa memastikan karena
bus belum datang. Ok saya memutuskan untuk go show di sore harinya saja. Pukul
15.00 WIB saya berangkat dari rumah di pamulang menuju lebak bulus menggunakan
jasa ojek online, cukup 15rb untuk sampai di lebak bulus. Pukul 15.45 saya sampai di lebak bulus, segera
menuju loket sinar jaya dan memesan tiket tujuan purwokerto pemberangkatan
terakhir. Dijawab oleh pihak ticketing bahwa pemberangkatan terakhir tujuan
purwokerto pukul 18.30 untuk kelas bisnis ac dan 17.30 untuk kelas eksekutif.
Saya segera booking seat pemberangkatan pukul 17.30 nomor 1 dan 2.
Setelah tiket berhasil diamankan,
saya sejenak melihat pemandangan lebak bulus di sore hari. Eh ada penampakan
Muji Jaya MD 005, Mercedez Benz OH 1525 Jetbus HD2 rombak garasi.
Pukul 17.15 WIB partner touring
saya sampai juga di lebak bulus. Sebelum berangkat kami memutuskan untuk
mengisi perut terlebih dahulu dikarenakan sinar jaya tidak mendapatkan service
makan. Pukul 18.00 WIB bus tak kunjung datang, sudah molor 15 menit dari waktu
keberangkatan. Didapat info bahwa bus terjebak macet di tol (efek jumat sore),
sehingga penumpang dimohon sabar menunggu. Pukul 18.15 bus yang akan kami
tumpangi akhirnya sampai di lebak bulus, penumpang segera dipersilahkan untuk
naik ke dalam. Berikut penampakan busnya
Tidak bisa foto full body karena
parkir yang sempit dan banyak orang. Sinar Jaya yang saya tumpangi berkode
30RB, dapur pacu Hino RN 285, konon katanya sudah built in air suspension dari
pabrikan. Entah kenapa chasiss ini dibalut dengan tipe Jetbus Non HD dari Adi
Putro, padahal pendahulunya sudah banyak yang berbody HD baik RK atau RN.
Pukul 18.25 WIB bus resmi
diberangkatkan dengan okupansi 21 penumpang. Menyusuri jalan yang padat di
jumat malam, bus langsung masuk tol. Lalu lintas yang padat, serta ac yang pas
(tidak terlalu dingin) membuatku langsung tertidur. Bangun sudah masuk rest
area KM 19 untuk kontrol penumpang. Masuk tol kembali dengan speed yang slow,
kembali saya tertidur. Baru bangun masuk tol cipali, masih dengan speed yang
slow. Beberapa kali saya rasakan suspensi RN ini gemlodak ketika melibas jalan
yang kurang mulus, kurang tahu ada problem apa ataukah hanya perasaan saya
saja.
Di tol melaju dengan sangat
santai, aksi netral menemani sepanjang perjalanan. Baru beberapa KM beranjak
dari gerbang tol cikopo, langsung diseset Nu3tara black pearl entah HS berapa
dari sebelah kanan, sepertinya angkatan rawamangun. Nu3tara langsung hilang
ditelan gelapnya tol cipali. Melewati Taman Sari Cipali terlihat Nu3tara yang
tadi mendahului kami sedang istirahat service makan bersama dengan MJCM. Beberapa
saat kemudian kembali kami diasapi oleh duet New Shantika Rawamangun (SE dan
Seri 9) yang berjalan beriringan dan langsung menghilang.
Sekitar pukul 21.00 WIB bus exit
tol untuk istirahat di RM Taman Selera. Disini saya membeli mie cup seharga
10rb. RM ini sangat luas dan menjadi
tempat istirahat barisan sinar jaya, DMI, serta sumber alam. Sekitar 30 menit
waktu istirahat, bus kembali diberangkatkan. Pukul 21.30 WIB bus resmi angkat
jangkar meninggalkan RM Taman Selera, masih dengan driver pertama dan satu2nya
(baru tahu kalau ternyata sinar jaya menerapkan sistem sopir engkel). Bus
kembali dipacu dengan aksi netral di jalan tol, sampai akhirnya saya tertidur
kembali.
Bangun2 bus sudah masuk ke dalam
suatu rumah makan (entah RM apa), yap ini merupakan istirahat yang kedua pada
perjalanan kali ini. Melihat jam pukul 01.30, saya pun turun untuk sekedar
membeli kopi panas. Kembali mengabadikan si 30RB
Disini pula terjadi oper
penumpang antar bus sinar jaya dengan berbagai tujuan, sayangnya seperti tidak
terkoordinir dengan baik. Crew bus seperti tidak memperhatikan penumpang yang
akan oper bus, jadi penumpang sendiri yang mencari2 bus tujuannya masing2 (mungkin
perasaan saya saja ya, kalau penumpang SJ sepertinya sudah biasa, hehe).
Pukul 02.00 WIB bus resmi
diberangkatkan kembali, menyusuri jalan yang berkelok dan kontur yang tidak
mulus. Disini sangat terasa suspensi RN
gemlodak saat melibas jalan berlubang. Di jalan ini banyak kres dengan bus
diantaranya Rosalia Indah, Pahala Kencana, dan Lorena. Banyak penumpang yang
turun di sepanjang jalan sampai dengan kami tiba di Terminal Purwokerto. Kami
memutuskan turun di pintu masuk terminal karena jam masih menunjukkan pukul
04.00 WIB, langsung naik taksi dengan tujuan tempat istirahat. Tarif taksi
dalam kota purwokerto adalah 25rb.
Pagi hari kami berencana untuk
jalan2 ke Baturaden. Pukul 09.00 WIB kami sewa motor dengan biaya 115rb (24
jam). Dalam perjalanan menuju baturaden kami tertarik untuk mampir di tempat
yang menjual es duren. Letaknya ada di depan Korem Purbalingga, dan disebut Es
Duren Purbalingga. Satu porsi es duren dibandrol dengan harga 15rb rupiah,
harga yang cukup mahal menurut saya, hehe. Berikut penampakannya
Setelah kami coba es duren ini
ternyata tidak mengecewakan, sesuai dengan harga yang dibandrol (efek terlalu
dini menjustifikasi). Kualitas durian yang digunakan menurut saya sangat baik,
sehingga sangat terasa durennya.
Setelah makan es duren, kami
melanjutkan perjalanan menuju baturaden. Perjalanan menuju baturaden kami
tempuh sekitar 30 menit, dengan udara yang segar dan hawa yang sejuk. Sekitar
pukul 09.45 WIB kami sampai di baturaden. Segera kami parkir motor dan masuk ke
taman wisata, tentunya setelah beli tiket. Tiket untuk masuk taman wisata ini
dibandrol sebesar 14rb/ orang. Berikut penampakan taman wisata baturaden ini
Kami berjalan2 di taman ini, ada
berbagai macam wahana yang ditawarkan. Kami memutuskan untuk mencari pemandian
air panas belerang sehingga berjalan menuju pancuran tiga. Setelah sampai di
pancuran tiga, kami terkejut karena kolam pemandian cukup kecil dan diisi oleh
banyak orang. Kami pun memutuskan untuk jalan menuju pancuran tujuh. Diluar
dugaan, perjalanan menuju pancuran tujuh ini melalui jalan setapak yang sangat
sepi diantara hutan.
Lewatin sungai2 kecil yang jernih
Setapak demi setapak jalan ini
kami lalui, belum terlihat ada ujungnya. Pemandangan yang sangat indah sedikit
mengobati rasa lelah kita. Sampai akhirnya setelah bejalan kurang lebih 3KM
(based on perasaan) kami tiba di rest area (tol mana yak?), warung kecil yang
menjajakan beberapa makanan, dan kami beristirahat disitu. Penasaran karena
belum terlihat tanda2 pancuran tujuh, kami akhirnya menyerah dan bertanya
kepada penjaga warung. Dijawab oleh beliau bahwa pancuran tujuh masih sekitar
500 meter mengikuti jalan setapak. Sedikit view dari rest area
Hati kami teguhkan, kaki kami
kuatkan, nafas kami panjangkan untuk sampai di pancuran tujuh. Kembali jalan
setapak kami lewati, beberapa saat kemudian penantian panjang itupun akhirnya
terjawab, titik cerah gerbang masuk pancuran tujuh telah terlihat. Dan yang
terlihat di depan gerbang tersebut adalah parkiran saudara2. Banyak mobil dan
motor yang ada di parkiran tersebut. Kami hanya bisa melongo melihatnya, dan
usut punya usut ternyata untuk mencapai pancuran tujuh memang mostly
menggunakan kendaraan dikarenakan jarak dari bawah sekitar 6-7 KM, what???
Ah daripada mikir yang tidak2
lebih baik kita masuk saja, dan ternyata dikenakan tiket kembali sebesar 10rb/
orang. Yap masuk ke dalam masih jalan kembali ±200 meter, dan akhirnya dapat
melihat pancuran tujuh
Celingak celinguk tidak ada kolam
untuk mandi belerang, dan hanya ada kamar mandi yang disewakan sebesar 5rb/15
menit. Ok lah kita memutuskan untuk mandi belerang di tempat tersebut, ternyata
di depan kamar mandi ada yang menawarkan sekalian pijat dengan belerang, yasud
sekalian kita dipijat, kasihan kaki kami yang telah kami paksa kerja rodi untuk
mengantar kami. Skip setelah ritual lulur, pijat, dan berendam (air belerangnya panas bgt, tp lama2
terbiasa), kami pun kelaparan dan segera menuju warung yang banyak berada disitu. Dan menunya sudah
pasti mendoan, serta teman2nya (tahu, bakwan, singkong, pisang), ada juga mie
rebus atau goreng.
Setelah kenyang kami segera
kembali ke parkiran untuk turun ke bawah, katanya sih ada angkot menuju ke
bawah (gak kebayang kalo musti jalan lagi ke bawah). Yap sampai di parkiran
kita tanya sama bapak sopir angkotnya
Ane: ke bawah pak?
Sopir Angkot: ya iya lah, masa ya
iya donk
A: msh nggu penuh ya pak?
SA: namanya jg angkot, kalo gk
ngetem busway namanya
Dan pemirsa, belum ada satu pun
insan manusia di angkot tersebut. Ok lah mari kita coba untuk menunggu sambil
menyusun strategi, karena setahu saya yang sampai di atas jalan kaki ya cuma
kami, artinya orang lain akan turun menggunakan kendaraan mereka masing2, jika
digabungkan antara pernyataan 1 dan 2 akan menghasilkan kesimpulan bahwa angkot
tersebut tidak akan mungkin penuh penumpang. Sambil menunggu dan mengusir
kebosanan kita selfie dulu
Setelah menunggu sekitar 1.5 jam
tidak ada kemajuan yang berarti alias pak sopir menggantung status kita. Ok
berbekal muka tebal hasil masker belerang saya memberanikan diri meminta ijin
nebeng pada sebuah keluarga yang menggunakan mobil. Yap akhirnya saya berhasil
meyakinkan keluarga tersebut bahwa saya bukan kriminal dan mengijinkan kami
untuk ikut nebeng sampai bawah. Dan akhirnya kami melambaikan tangan kepada pak
sopir angkot dari mobil pick up yang membawa serta kami, kaburrr.
Melewati jalan turun naik,
berkelok, serta aspal yang rusak terobati dengan pemandangan yang disuguhkan,
pohon2 besar menjulang, sangat indah. Sampai di bawah kami turun dan tak lupa
berterima kasih banyak atas tumpangan yang diberikan. Karena hari sudah semakin
sore kami bergegas menuju parkiran motor dan segera kembali ke purwokerto.
Keesokan hari, 3 April 2016 kami
bangun pagi2 untuk sekedar ingin melihat suasana purwokerto di minggu pagi.
Rencana awal mau ke alun2 eh ternyata dari jauh sudah distop dikarenakan ada
acara car free day. Ok kita putar2 kota saja sampai akhirnya kita menemukan
sebuah taman namanya bale kemambang. Kami pun berhenti di taman itu, mau masuk
ternyata bayar tiket 2.5rb/ orang. Begini suasana taman di dalam
Banyak keluarga yang menghabiskan
waktu minggu pagi di taman ini. Menurut saya taman ini sangat bagus, bersih dan
terawat. Pengunjung bisa berjalan2 atau duduk santai di taman ini. Anak2
biasanya suka ngasih makan ikan yang ada di kolam, ikannya banyak banget.
Menjelang pukul 09.00 WIB kami bergegas kembali karena rencana kepulangan kami
pukul 12.12 WIB via stasiun purwokerto. Beres packing kami segera menuju jalan
untuk mencari transport umum menuju stasiun. Bertanyalah kami pada seseorang di
pinggir jalan, dan bak gayung bersambut beliau menawarkan kami untuk naik
becaknya (ternyata bapak driver becak) seharga 25rb untuk sampai di stasiun.
Kami terima tawaran beliau dan becak pun segera meluncur.
Pukul 11.00 WIB becak pun telah
sampai di stasiun, kami turun dan tak lupa berterima kasih (sambil bayar
tentunya, ini kan bukan nebeng lagi). Kami pun mengisi perut terlebih dahulu di
depan stasiun, antisipasi kelaparan di kereta. Menjelang pukul 12.00 WIB kami
segera masuk ke peron, tunjukkan tiket dan ID kita kepada petugas. Beberapa
view dalam stasiun
Terdengar pengumuman bahwa KA
Bogowonto tujuan Pasar Senen mengalami keterlambatan sekitar 40 menit. Ok kita
tunggu sambil melihat beberapa kereta yang lewat. Pukul 12.55 WIB akhirnya
kereta yang ditunggu2 datang juga. Kami segera masuk ke dalam gerbong dan
mencari tempat duduk kami. Beberapa saat kemudian kereta mulai berjalan
meninggalkan purwokerto menuju Jakarta. Cukup nyaman kereta berlabel ekonomi
ini, AC berfungsi cukup baik, penumpang pun tertib di tempat duduk masing2,
semoga pelayanan PT KAI dapat terus ditingkatkan.
Sepanjang perjalanan disuguhi
pemandangan sawah, kebun, dan perbukitan nan hijau. Kami pun segera terbuai ke
alam mimpi efek dari hembusan AC yang sejuk dan pemandangan yang hijau.
Terbangun kereta masih konsisten di rel, belum keluar jalur, apalagi blong
kanan. Mungkin inilah yang membuat saya kurang begitu suka naik kereta,
perjalanan serasa monoton (pendapat subyektif tentunya). Daripada bosan kita
selfie dulu
Pukul 18.30 WIB akhirnya kereta
touchdown di stasiun pasar senen, lebih lambat ±30 menit dari jadwal. Demikian
report perjalanan saya menuju purwokerto, ingin rasanya kembali berkunjung
kesana suatu saat nanti. Terima kasih






















No comments:
Post a Comment