Monday, May 2, 2016

Pulang Kampung


Pulang kampung, begitulah tagline yg saya usung kali ini. Yap, perjalanan saya kali ini menuju salah satu kota di ujung utara Jawa Tengah yang terkenal akan kemewahan busnya. Jepara, itulah kota tujuan perjalanan saya kali ini, sekaligus menjalankan kewajiban untuk menengok Ibu dan Bapak dirumah. Beberapa hari terakhir saya mencari opsi bus yang akan saya tumpangi menuju Jepara. Setelah ditimbang2 akhirnya pilihan dijatuhkan pada PO asal Ngabul, Jepara serta berangkat dari Terminal Lebak Bulus.
Tanggal 12 April 2016 saya mencoba menghubungi Agen Lebak Bulus untuk memesan tiket, langsung diangkat oleh ibu agen.
Saya: Bu, pesen nggo tanggal 14 ngarep iseh ono ora? (Bu, pesan untuk tanggal 14 seat depan masih ada tidak?)
Agen: Iseh mas, nggo wong piro? (Masih mas, untuk berapa orang?)
S: Siji wae bu, entuk nomer piro? (Satu saja bu, dapat nomor berapa?)
A: Nomer 4 yo mas, atas nama sopo? (Nomor 4 ya mas, atas nama siapa?)
S: Budi bu... Suwun nggih, sesuk tak tebuse rono. (Budi bu... Makasih ya, besok saya tebus kesana)
A: Sami2 mas (Sama2 mas)
Tiket keberangkatan sudah diamankan, menurut hitung2an sih dapat armada yang itu, semoga tidak meleset. Tanggal 13 April 2016 saya tidak sempat mampir untuk menebus tiket, biasanya sih tebus waktu berangkat tidak masalah, kalaupun hangus ya siap untuk go show di hari H. Tanggal keberangkatan, 14 April 2016 siang hari saya sudah mulai packing. Pukul 14.30 WIB ada telp masuk ternyata dari agen MD lebak bulus, mengkonfirmasi kepastian berangkat, saya jawab sudah mau berangkat ke lebak bulus.
Pukul 15.00 WIB langit mulai gelap, dan tak lama kemudian hujan turun dengan derasnya. Sampai dengan pukul 15.30 WIB belum ada tanda hujan akan reda, saya segera pesan ojek online hanya untuk booking armada feeder ke lebak bulus. Beberapa saat menunggu akhirnya ada panggilan masuk dari driver ojek, dan saya pun berkata tidak usah buru2, coba tunggu 5-10 menit manakala hujan mereda. Pukul 15.45 WIB hujan tak kunjung reda, saya pun inisiatif sms driver ojek untuk segera menjemput, estimasi perjalanan menuju lebak bulus memakan waktu 30-45 menit tergantung kondisi lalu lintas.
Hujan deras di sore hari
Pukul 16.00 WIB ojek yg saya pesan tak kunjung muncul, harap2 cemas, kuatir telat sampai lebak bulus, gak enak sama agen yg telah menyediakan 1 kursi untukku walaupun belum kutebus. Pukul 16.06 WIB akhirnya ojek yg saya tunggu2 tiba. Segera saya menghampiri pak driver yg sigap memberikan jas hujan kepadaku. Segera kupakai dan langsung naik ke motor, kuarahkan pak driver untuk lewat jalan belakang agar terhindar dari kemacetan. Honda vario yg saya tumpangi pun segera menjalankan tugasnya, berjalan standar karena hujan dan di beberapa titik terdapat genangan air luapan selokan yg tak mampu menampung limpahan air hujan.
Setelah mengarungi jalanan dengan ditemani hujan, akhirnya pukul 16.40 WIB kami sampai di pasar jumat. Segera saya turun dari ojek, mengembalikan jas hujan dan membayar ongkos. Dengan berjalan cepat diiringi rintik hujan saya menuju terminal darurat lebak bulus yg berada di sudut perempatan pasar jumat. Baru berjalan beberapa langkah sudah ada calo yg sigap menghadangku, menawarkan berbagai tujuan di jawa tengah dan timur. Kutolak dengan halus seraya berkata bahwa saya telah memiliki tiket, tetapi ybs setengah memaksa saya untuk menunjukkan tiket tersebut. Kulangkahkan kaki tanpa menghiraukan calo tersebut menuju agen bus yang akan saya tumpangi.
Sampai di agen ternyata telah disiapkan tiket atas nama diriku, segera kutebus dengan empat lembar uang berwarna biru, sang agen memberitahukan untuk siap pemberangkatan jam 5. Kulihat armada telah sampai di terminal pasar jumat, segera saja kuabadikan
Ex MD 077
Muji Jaya MD 004, Mercedez Benz OH 1525 with Air Suspension dengan body Jetbus HD2 rombak garasi telah siap untuk mengantar para penumpang menuju tujuan. Tepat sesuai perhitungan armada ini yang saya incar, dikarenakan sudah pernah dapat MD 005 jadi pengen coba pasangannya MD 004. Masih ada waktu sebelum berangkat, saya berinisiatif membeli mie cup untuk mengganjal perut karena service makan di RM Aroma yang jaraknya cukup jauh, serta bayang2 kemacetan di tol JORR.
Pukul 17.10 WIB saya segera naik ke atas bus dan menempati seat nomor 4, sebelah saya adalah seorang bapak2 yang akan menunaikan perjalanan ke kampung halaman juga. Lihat sekeliling  interior bus rombakan ini sangat rapi, mungkin jika orang awam tidak akan dapat membedakan. Dashboard sudah diganti generasi Jetbus, spion tanduk, pintu belakang yang dipindah ke tengah, serta sekat untuk kabin sangat rapi. Pukul 17.30 WIB bus resmi angkat jangkar dari terminal pasar jumat, menyusuri kepadatan jalanan Jakarta di sore menjelang malam hari.
Kendali kemudi dipegang oleh Mas Samsul sebagai driver pinggir (perasaan dulu Mas Samsul bawa MD 005 deh). Bapak di sebelah saya bilang bahwa sopir ini kencang bawa busnya, menandakan beliau sudah sering wara wiri menggunakan jasa Muji Jaya. Co Driver dengan sigap membagikan soft drink saja, tanpa ada mie cup yang biasa jadi service snack MD, mungkin kehabisan atau ada kendala lain, semoga layanan kecil seperti ini dapat dijalankan dengan konsisten. Bus dipacu menyusuri kemacetan ibukota di sore hari, masuk tol JORR langsung berhenti karena macet. Berjalan pelan2 akhirnya mulai lancar, bus dapat dipacu di jalan tol. Masih di tol JORR bertemu dengan armada si hitam B39 jatah bogor, langsung diseset dari kanan oleh mas samsul.
B39, Hino RK 8 with Air Suspension
Perjalanan di tol cikampek malam itu ramai lancar, belum bertemu kembali dengan kawan seperjalanan hingga masuk tol cipali. Di tol cipali bertemu dengan Kramat Djati Jetbus HD2, langsung ditempel dan didahului oleh mas samsul dari lajur kiri
Setelah mendahului Mbak KD, samar terlihat di depan ada teman seperjalanan kembali. Setelah didekati ternyata Haryanto HR37, konon katanya satu2nya spesies marco yang masih tersisa di HR.
HR 37 "Axelle"
HR 37 didahului dengan mudah oleh mas samsul dari sebelah kiri. Lepas dari HR, MD 004 dipacu konstan mengarungi tol cipali, tiba2 dari sebelah kiri melaju kencang mendahului kami Nu3tara black pearl entah HS berapa, di buritan hanya tertempel sticker kecil OH 1830 (tumben armada Pak Han menempelkan sticker kode chassis di bodinya). Nu3tara tersebut geal geol melewati beberapa truk di depan kami dan langsung menghilang di gelapnya malam tol cipali.
Pukul 21.50 WIB bus diarahkan keluar tol Cirebon guna istirahat service makan di RM Aroma. Baru keluar dari tol langsung membuntuti New Shantika seri 2C “New Idol”, wah bukannya armada ini start muncul pukul 16.00 WIB, ada apa gerangan baru sampai disini.
Pantura Cirebon kami libas dengan membuntuti New Shantika dikarenakan jalanan padat oleh truk, sampai akhirnya mas samsul sein kiri untuk masuk ke RM Aroma. Segera saya turun untuk mengisi perut, hampir 5 jam waktu yang kita tempuh dari Lebak Bulus membuat perut saya meminta untuk segera diisi. Sedikit antrian untuk mendapatkan service makan malam, dan akhirnya menu malam itu saya dapatkan
Service makan RM Aroma
Berikut penilaian service makan di RM Aroma menurut saya:
Nasi: 7
Tumis Kacang Panjang: 7
Tempe: 7
Ayam Bumbu: 8
Sambal ijo: 7
Teh manis hangat: 7
Overall menurut saya jauh lebih baik daripada pendahulunya RM Uun di Subang. Setelah melahap seisi piring dan gelas, segera saya ke depan untuk melihat armada yang ada di RM saat itu. Ternyata MD 009 jatah Rawamangun dan beberapa PK juga telah terparkir untuk memberi kesempatan penumpang beristirahat dan menikmati makan malam. Mencoba mengabadikan barisan MD saat itu
MD 004 & MD 009
Interior MD 004
Seat sangat nyaman untuk menopang tubuh kita, hanya saja untuk deret paling depan tidak bisa selonjor full dikarenakan adanya sekat. Oh iya di armada ini juga terdapat minibar jika penumpang menginginkan teh atau kopi dapat membuat sendiri, letaknya di bagian belakang berdekatan dengan tempat tidur sopir.
Pukul 22.30 WIB bus dijalankan kembali, meninggalkan saudara muda MD 009 yang masih memberikan kesempatan para penumpangnya untuk beristirahat. Bus dipacu kencang namun halus, tidak memaksakan jika kondisi jalan buruk ataupun lalu lintas padat. Inilah yang menurut saya nilai plus dari MD, pembawaan halus namun kencang, waktu tempuh pun tidak beda jauh dari kompetitor di line muria raya. Jadi ingat suatu kali ikut salah satu PO yang memiliki track record sebagai bus paling banter se-indonesia raya, sepanjang perjalanan kurang dapat beristirahat karena gemlodak kabin dan suspensi, serta cara bawa bus yang kasar, padahal armada meskipun bukan yang terbaru tetapi lebih muda daripada angkatan MD orange LB.
BTT, saya yang awalnya ingin menikmati nuansa pantura di malam hari tidak tahan oleh buaian kabin yang sejuk dan ayunan suspensi udara membuatku tak dapat menahan kantuk dan segera masuk ke alam mimpi. Terbangun ketika lalu lintas tersendat di Batang, macet bareng NS yang tadi mendahului kami di Cipali dan Shantika “New Idol”. Berjalan tersendat sampai pada ujung kemacetan, ternyata perbaikan jalan sehingga menyisakan 1 lajur saja. Menjelang alas roban, bus berbelok ke kanan melewati jalan baru. Hampir sampai di ujung jalan baru, bus melambat dan berbelok ke kiri memasuki RM Sendang Wungu, klakson dari NS terdengar menyapa kami, ternyata sejak dari Batang membuntuti kami. Bus berhenti di depan checker MD, kulihat jam menunjuk pukul 02.00 WIB.
Setelah proses checker selesai, bus kembali dijalankan mengarungi pantura. Saya pun kembali terlelap, seakan masih kurang waktu tidur selama perjalanan. Terbangun kembali saat bus sudah memasuki wilayah Mayong, Jepara. Disini beberapa penumpang sudah mulai turun sampai dengan kota Jepara. Pukul 04.45 WIB akhirnya saya turun di Alun2 Kota Jepara, dan menuju ke rumah untuk beristirahat.
Selama di rumah saya sempatkan untuk mengunjungi obyek wisata yang sudah lama menjadi ikon Kota Jepara yaitu Pantai Kartini. Sayang sekali kondisi obyek wisata ini terlihat sangat tidak terawat, sampah banyak berserakan, fasilitas penunjang pun seperti dibiarkan tanpa perawatan. Memandangi Laut Jawa yang tenang di sore hari memang menenangkan, ditemani sunset yang sangat indah. Beberapa pedagang sudah mulai membereskan lapak dagang mereka. Sempat saya abadikan gambar besama kakak dengan latar belakang Kura2 Ocean Park.
Tanggal 20 April 2016 saya harus kembali ke ibukota untuk suatu tujuan. Mencoba menghubungi agen MD terminal Jepara untuk booking tiket keberangkatan tanggal 21 April 2016. Tiket sudah diamankan tetapi sang agen tidak berani mengambil resiko untuk kutebus saat berangkat. Ok saya langsung mampir terminal Jepara untuk menebus tiket yang telah saya booking. Tiket tujuan Rawamangun keberangkatan tanggal 21 April 2016 seat no 2 telah saya amankan.
Esok hari pukul 16.00 WIB saya sudah bersiap2 packing, berangkat menuju terminal Jepara pukul 17.00 WIB dengan diantar oleh kakak. Sesampai di terminal telah berbaris rapi armada MD untuk keberangkatan sore itu. Jatah Rawamangun diisi oleh MD 009, Lebak Bulus MD 004, Poris MD 088, Bogor MD 007. Suasana terminal telah sangat sepi, armada lain telah berangkat semua, menyisakan MD yang memang berangkat habis maghrib.
Pukul 18.10 WIB seluruh penumpang MD dipersilahkan untuk naik ke armada. Saya pun segera naik ke armada dan menempati seat no. 2, tepat pukul 18.15 WIB bus diberangkatkan dari terminal Jepara dengan driver Pak Tahu. Menyusuri jalanan kota Jepara, bus berhenti di sebuah perempatan, ternyata driver pinggir Mas Supri naik dari sini, langsung dia memegang kendali bus dan melanjutkan perjalanan. Bus kembali berhenti sejenak di Ngabul untuk menaikkan paket, dan langsung berangkat kembali. Beberapa kali berhenti sepanjang jalan Jepara – Kudus untuk menaikkan penumpang di agen, dan akhirnya sampai di terminal Kudus pukul 19.30 WIB, suasana terminal sudah kosong, hanya tersisa MD yang menaikkan penumpang dan segera berangkat kembali.
Lepas terminal Kudus mulai terlihat style dari Mas Supri, sangat halus namun kencang. Sepanjang kudus – semarang tidak bertemu kawan, sudah tertinggal dari teman2 seperjalanan. Masuk tol semarang bertemu dengan Rosalia Indah, langsung didahului dengan smooth oleh mas supri.
Di lingkar kaliwungu MD 009 membuntuti Sari Mustika, mas supri menempel tipis dan langsung goyang kiri untuk mendahului tetapi terhalang oleh truk. Mas Supri tampak sedikit kesal karena Sari Mustika justru mempercepat laju ketika kami meminta jalan. Untuk kedua kalinya kami pun menempel tipis sekali dan goyang kiri untuk mendahului, tetapi kembali Sari Mustika malah mempercepat laju dan kami terhalang truk di sebelah kiri. Saya pun terhenyak dengan aksi mas supri ini sampai tidak sempat mengabadikan. Sampai di lampu merah mas supri ambil bahu jalan untuk mendahului mobil yang antri.
Pukul 21.30 WIB kami sampai di RM Sendang Wungu untuk istirahat service makan. Di belakang ternyata menyusul MD 004 dan MD 088, sedangkan MD 007 sudah sampai duluan. Segera saya turun untuk dan mengambil jatah service makan.
Service makan RM Sendang Wungu
Berikut penilaian service makan di RM Sendang Wungu menurut saya:
Nasi: 6.5
Sayur: 6
Ayam Goreng: 6
Tahu goreng: 5.5
Teh manis: 6
Kekurangan yang lain menurut saya tidak disediakan garpu dan tisu.
Setelah makan, saya kembali menuju bus untuk membuat kopi, agar badan terasa hangat di malam yang cukup dingin saat itu. Berikut penampakan mini bar dalam kabin MD 009
Sembari menikmati kopi jepret dulu barisan MD di Sendang Wungu
MD 009, MD 004, MD 007
MD 009, Mercy OH 1626
Pukul 22.00 WIB bus siap untuk diberangkatkan kembali, kemudi diambil alih oleh Pak Tahu selaku driver tengah. Bus berjalan cukup cepat standar muriaan, jalanan lancar tak menyisakan lawan lagi karena armada lain sudah cukup jauh di depan. Memasuki kota pemalang dihadang oleh kemacetan. Setelah antri ternyata sumber kemacetan adalah rel kereta api yang rusak jalannya sehingga banyak truk sangat berhati2 melewatinya.
Menjelang pertigaan tol pejagan terlihat barisan Rosalia Indah berbaris rapi antri untuk belok kiri, pak tahu ambil kanan lurus melalui jalan biasa. Berjalan beberapa saat terlihat di depan si hitam B11, langsung didahului oleh pak tahu.
Saya kembali tertidur dan bangun ketika bus mengalami sedikit goyangan, ternyata pak tahu mampir di RM Aroma dan mobil bergoyang saat meninggalkan RM Aroma. Bus diarahkan masuk tol Cirebon, beberapa saat kemudian kembali bertemu B11 yang kami dahului sebelum RM Aroma. Dengan klakson pendek pak tahu menyapa sebagai tanda untuk berjalan duluan. Setelah itu kembali saya terbuai ke alam mimpi, kabin yang senyap sangat mendukung untuk tertidur.
Setengah sadar ternyata sedang berhenti di gerbang tol cikopo untuk pergantian driver, mas supri kembali memegang kendali, sementara pak tahu istirahat ke belakang. Disini saya tidak tertidur lagi, tanpa malu2 mas supri segera memaksimalkan tenaga OH 1626 yang dia kendarai. Sepanjang tol cikampek terus geal geol mencari celah untuk mendahului mobil yang lebih lambat. Masuk tol wiyoto wiyono masih terus dibejek sampai akhirnya keluar tol menuju Rawamangun. Pukul 04.45 WIB MD 009 resmi finish di Terminal Rawamangun.
Saya segera menuju seberang terminal untuk membeli mie rebus, rasanya perut sudah lapar lagi. Setelah melahap mie rebus, saya berjalan menuju halte busway arion untuk menumpang transjakarta menuju lebak bulus. Setelah tap kartu flazz, saya menunggu armada yang pagi itu akan mengantar saya.
Suasana Halte Transjakarta di pagi hari
Tak lama bus datang, segera saya naik dan turun di halte matraman. Dari halte matraman saya pindah bus yang menuju ke harmoni. Turun di halte sentral harmoni, saya menuju tempat pemberangkatan bus tujuan lebak bulus. Sampai di lebak bulus saya memesan jasa ojek online untuk mengantar saya menuju tujuan akhir di pamulang. Pukul 08.10 saya sampai di Pamulang.

Terima kasih kepada armada dan crew MD 004 dan MD 009 telah mengantarkan saya menuju tujuan dengan sensasi yang mengesankan. Next time semoga dapat bertemu kembali.

Tuesday, April 12, 2016

Trip to Purwokerto


Sudah sejak lama saya ingin mbolang menuju purwokerto. Kesan akan kota ini yang tenang, tidak terlalu ruwet, dan aspek keterjangkauan dari Jakarta menjadi pertimbangan saya. Mulailah saya mencari info, serta merencanakan detail perjalanan menuju kota tersebut. Rencana awal perjalanan ini pp menggunakan transportasi favorit yaitu bus, tetapi terbuka juga untuk model transport lain disesuaikan dengan waktu dan efektivitas.
Untuk keberangkatan saya memilih menggunakan bus sinar jaya, karena belum pernah mencoba PO yang satu ini, serta keberangkatan bus ini pukul 18.00 tidak mengganggu aktivitas di siang hari. Jumat, 1 April 2016  pukul 09.00 WIB saya menuju kantor sinar jaya di lebak bulus, bermaksud untuk memesan tiket pemberangkatan sore hari, tetapi oleh pihak kantor belum bisa memastikan karena bus belum datang. Ok saya memutuskan untuk go show di sore harinya saja. Pukul 15.00 WIB saya berangkat dari rumah di pamulang menuju lebak bulus menggunakan jasa ojek online, cukup 15rb untuk sampai di lebak bulus. Pukul  15.45 saya sampai di lebak bulus, segera menuju loket sinar jaya dan memesan tiket tujuan purwokerto pemberangkatan terakhir. Dijawab oleh pihak ticketing bahwa pemberangkatan terakhir tujuan purwokerto pukul 18.30 untuk kelas bisnis ac dan 17.30 untuk kelas eksekutif. Saya segera booking seat pemberangkatan pukul 17.30 nomor 1 dan 2.
Setelah tiket berhasil diamankan, saya sejenak melihat pemandangan lebak bulus di sore hari. Eh ada penampakan Muji Jaya MD 005, Mercedez Benz OH 1525 Jetbus HD2 rombak garasi.

Pukul 17.15 WIB partner touring saya sampai juga di lebak bulus. Sebelum berangkat kami memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu dikarenakan sinar jaya tidak mendapatkan service makan. Pukul 18.00 WIB bus tak kunjung datang, sudah molor 15 menit dari waktu keberangkatan. Didapat info bahwa bus terjebak macet di tol (efek jumat sore), sehingga penumpang dimohon sabar menunggu. Pukul 18.15 bus yang akan kami tumpangi akhirnya sampai di lebak bulus, penumpang segera dipersilahkan untuk naik ke dalam. Berikut penampakan busnya

Tidak bisa foto full body karena parkir yang sempit dan banyak orang. Sinar Jaya yang saya tumpangi berkode 30RB, dapur pacu Hino RN 285, konon katanya sudah built in air suspension dari pabrikan. Entah kenapa chasiss ini dibalut dengan tipe Jetbus Non HD dari Adi Putro, padahal pendahulunya sudah banyak yang berbody HD baik RK atau RN.
Pukul 18.25 WIB bus resmi diberangkatkan dengan okupansi 21 penumpang. Menyusuri jalan yang padat di jumat malam, bus langsung masuk tol. Lalu lintas yang padat, serta ac yang pas (tidak terlalu dingin) membuatku langsung tertidur. Bangun sudah masuk rest area KM 19 untuk kontrol penumpang. Masuk tol kembali dengan speed yang slow, kembali saya tertidur. Baru bangun masuk tol cipali, masih dengan speed yang slow. Beberapa kali saya rasakan suspensi RN ini gemlodak ketika melibas jalan yang kurang mulus, kurang tahu ada problem apa ataukah hanya perasaan saya saja.
Di tol melaju dengan sangat santai, aksi netral menemani sepanjang perjalanan. Baru beberapa KM beranjak dari gerbang tol cikopo, langsung diseset Nu3tara black pearl entah HS berapa dari sebelah kanan, sepertinya angkatan rawamangun. Nu3tara langsung hilang ditelan gelapnya tol cipali. Melewati Taman Sari Cipali terlihat Nu3tara yang tadi mendahului kami sedang istirahat service makan bersama dengan MJCM. Beberapa saat kemudian kembali kami diasapi oleh duet New Shantika Rawamangun (SE dan Seri 9) yang berjalan beriringan dan langsung menghilang.
Sekitar pukul 21.00 WIB bus exit tol untuk istirahat di RM Taman Selera. Disini saya membeli mie cup seharga 10rb.  RM ini sangat luas dan menjadi tempat istirahat barisan sinar jaya, DMI, serta sumber alam. Sekitar 30 menit waktu istirahat, bus kembali diberangkatkan. Pukul 21.30 WIB bus resmi angkat jangkar meninggalkan RM Taman Selera, masih dengan driver pertama dan satu2nya (baru tahu kalau ternyata sinar jaya menerapkan sistem sopir engkel). Bus kembali dipacu dengan aksi netral di jalan tol, sampai akhirnya saya tertidur kembali.
Bangun2 bus sudah masuk ke dalam suatu rumah makan (entah RM apa), yap ini merupakan istirahat yang kedua pada perjalanan kali ini. Melihat jam pukul 01.30, saya pun turun untuk sekedar membeli kopi panas. Kembali mengabadikan si 30RB

Disini pula terjadi oper penumpang antar bus sinar jaya dengan berbagai tujuan, sayangnya seperti tidak terkoordinir dengan baik. Crew bus seperti tidak memperhatikan penumpang yang akan oper bus, jadi penumpang sendiri yang mencari2 bus tujuannya masing2 (mungkin perasaan saya saja ya, kalau penumpang SJ sepertinya sudah biasa, hehe).
Pukul 02.00 WIB bus resmi diberangkatkan kembali, menyusuri jalan yang berkelok dan kontur yang tidak mulus.  Disini sangat terasa suspensi RN gemlodak saat melibas jalan berlubang. Di jalan ini banyak kres dengan bus diantaranya Rosalia Indah, Pahala Kencana, dan Lorena. Banyak penumpang yang turun di sepanjang jalan sampai dengan kami tiba di Terminal Purwokerto. Kami memutuskan turun di pintu masuk terminal karena jam masih menunjukkan pukul 04.00 WIB, langsung naik taksi dengan tujuan tempat istirahat. Tarif taksi dalam kota purwokerto adalah 25rb.
Pagi hari kami berencana untuk jalan2 ke Baturaden. Pukul 09.00 WIB kami sewa motor dengan biaya 115rb (24 jam). Dalam perjalanan menuju baturaden kami tertarik untuk mampir di tempat yang menjual es duren. Letaknya ada di depan Korem Purbalingga, dan disebut Es Duren Purbalingga. Satu porsi es duren dibandrol dengan harga 15rb rupiah, harga yang cukup mahal menurut saya, hehe. Berikut penampakannya

Setelah kami coba es duren ini ternyata tidak mengecewakan, sesuai dengan harga yang dibandrol (efek terlalu dini menjustifikasi). Kualitas durian yang digunakan menurut saya sangat baik, sehingga sangat terasa durennya.
Setelah makan es duren, kami melanjutkan perjalanan menuju baturaden. Perjalanan menuju baturaden kami tempuh sekitar 30 menit, dengan udara yang segar dan hawa yang sejuk. Sekitar pukul 09.45 WIB kami sampai di baturaden. Segera kami parkir motor dan masuk ke taman wisata, tentunya setelah beli tiket. Tiket untuk masuk taman wisata ini dibandrol sebesar 14rb/ orang. Berikut penampakan taman wisata baturaden ini


Kami berjalan2 di taman ini, ada berbagai macam wahana yang ditawarkan. Kami memutuskan untuk mencari pemandian air panas belerang sehingga berjalan menuju pancuran tiga. Setelah sampai di pancuran tiga, kami terkejut karena kolam pemandian cukup kecil dan diisi oleh banyak orang. Kami pun memutuskan untuk jalan menuju pancuran tujuh. Diluar dugaan, perjalanan menuju pancuran tujuh ini melalui jalan setapak yang sangat sepi diantara hutan.




Lewatin sungai2 kecil yang jernih



Setapak demi setapak jalan ini kami lalui, belum terlihat ada ujungnya. Pemandangan yang sangat indah sedikit mengobati rasa lelah kita. Sampai akhirnya setelah bejalan kurang lebih 3KM (based on perasaan) kami tiba di rest area (tol mana yak?), warung kecil yang menjajakan beberapa makanan, dan kami beristirahat disitu. Penasaran karena belum terlihat tanda2 pancuran tujuh, kami akhirnya menyerah dan bertanya kepada penjaga warung. Dijawab oleh beliau bahwa pancuran tujuh masih sekitar 500 meter mengikuti jalan setapak. Sedikit view dari rest area


Hati kami teguhkan, kaki kami kuatkan, nafas kami panjangkan untuk sampai di pancuran tujuh. Kembali jalan setapak kami lewati, beberapa saat kemudian penantian panjang itupun akhirnya terjawab, titik cerah gerbang masuk pancuran tujuh telah terlihat. Dan yang terlihat di depan gerbang tersebut adalah parkiran saudara2. Banyak mobil dan motor yang ada di parkiran tersebut. Kami hanya bisa melongo melihatnya, dan usut punya usut ternyata untuk mencapai pancuran tujuh memang mostly menggunakan kendaraan dikarenakan jarak dari bawah sekitar 6-7 KM, what???
Ah daripada mikir yang tidak2 lebih baik kita masuk saja, dan ternyata dikenakan tiket kembali sebesar 10rb/ orang. Yap masuk ke dalam masih jalan kembali ±200 meter, dan akhirnya dapat melihat pancuran tujuh


Celingak celinguk tidak ada kolam untuk mandi belerang, dan hanya ada kamar mandi yang disewakan sebesar 5rb/15 menit. Ok lah kita memutuskan untuk mandi belerang di tempat tersebut, ternyata di depan kamar mandi ada yang menawarkan sekalian pijat dengan belerang, yasud sekalian kita dipijat, kasihan kaki kami yang telah kami paksa kerja rodi untuk mengantar kami. Skip setelah ritual lulur, pijat, dan berendam  (air belerangnya panas bgt, tp lama2 terbiasa), kami pun kelaparan dan segera menuju warung  yang banyak berada disitu. Dan menunya sudah pasti mendoan, serta teman2nya (tahu, bakwan, singkong, pisang), ada juga mie rebus atau goreng.
Setelah kenyang kami segera kembali ke parkiran untuk turun ke bawah, katanya sih ada angkot menuju ke bawah (gak kebayang kalo musti jalan lagi ke bawah). Yap sampai di parkiran kita tanya sama bapak sopir angkotnya
Ane: ke bawah pak?
Sopir Angkot: ya iya lah, masa ya iya donk
A: msh nggu penuh ya pak?
SA: namanya jg angkot, kalo gk ngetem busway namanya
Dan pemirsa, belum ada satu pun insan manusia di angkot tersebut. Ok lah mari kita coba untuk menunggu sambil menyusun strategi, karena setahu saya yang sampai di atas jalan kaki ya cuma kami, artinya orang lain akan turun menggunakan kendaraan mereka masing2, jika digabungkan antara pernyataan 1 dan 2 akan menghasilkan kesimpulan bahwa angkot tersebut tidak akan mungkin penuh penumpang. Sambil menunggu dan mengusir kebosanan kita selfie dulu

Setelah menunggu sekitar 1.5 jam tidak ada kemajuan yang berarti alias pak sopir menggantung status kita. Ok berbekal muka tebal hasil masker belerang saya memberanikan diri meminta ijin nebeng pada sebuah keluarga yang menggunakan mobil. Yap akhirnya saya berhasil meyakinkan keluarga tersebut bahwa saya bukan kriminal dan mengijinkan kami untuk ikut nebeng sampai bawah. Dan akhirnya kami melambaikan tangan kepada pak sopir angkot dari mobil pick up yang membawa serta kami, kaburrr.
Melewati jalan turun naik, berkelok, serta aspal yang rusak terobati dengan pemandangan yang disuguhkan, pohon2 besar menjulang, sangat indah. Sampai di bawah kami turun dan tak lupa berterima kasih banyak atas tumpangan yang diberikan. Karena hari sudah semakin sore kami bergegas menuju parkiran motor dan segera kembali ke purwokerto.
Keesokan hari, 3 April 2016 kami bangun pagi2 untuk sekedar ingin melihat suasana purwokerto di minggu pagi. Rencana awal mau ke alun2 eh ternyata dari jauh sudah distop dikarenakan ada acara car free day. Ok kita putar2 kota saja sampai akhirnya kita menemukan sebuah taman namanya bale kemambang. Kami pun berhenti di taman itu, mau masuk ternyata bayar tiket 2.5rb/ orang. Begini suasana taman di dalam


Banyak keluarga yang menghabiskan waktu minggu pagi di taman ini. Menurut saya taman ini sangat bagus, bersih dan terawat. Pengunjung bisa berjalan2 atau duduk santai di taman ini. Anak2 biasanya suka ngasih makan ikan yang ada di kolam, ikannya banyak banget. Menjelang pukul 09.00 WIB kami bergegas kembali karena rencana kepulangan kami pukul 12.12 WIB via stasiun purwokerto. Beres packing kami segera menuju jalan untuk mencari transport umum menuju stasiun. Bertanyalah kami pada seseorang di pinggir jalan, dan bak gayung bersambut beliau menawarkan kami untuk naik becaknya (ternyata bapak driver becak) seharga 25rb untuk sampai di stasiun. Kami terima tawaran beliau dan becak pun segera meluncur.
Pukul 11.00 WIB becak pun telah sampai di stasiun, kami turun dan tak lupa berterima kasih (sambil bayar tentunya, ini kan bukan nebeng lagi). Kami pun mengisi perut terlebih dahulu di depan stasiun, antisipasi kelaparan di kereta. Menjelang pukul 12.00 WIB kami segera masuk ke peron, tunjukkan tiket dan ID kita kepada petugas. Beberapa view dalam stasiun


Terdengar pengumuman bahwa KA Bogowonto tujuan Pasar Senen mengalami keterlambatan sekitar 40 menit. Ok kita tunggu sambil melihat beberapa kereta yang lewat. Pukul 12.55 WIB akhirnya kereta yang ditunggu2 datang juga. Kami segera masuk ke dalam gerbong dan mencari tempat duduk kami. Beberapa saat kemudian kereta mulai berjalan meninggalkan purwokerto menuju Jakarta. Cukup nyaman kereta berlabel ekonomi ini, AC berfungsi cukup baik, penumpang pun tertib di tempat duduk masing2, semoga pelayanan PT KAI dapat terus ditingkatkan.
Sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan sawah, kebun, dan perbukitan nan hijau. Kami pun segera terbuai ke alam mimpi efek dari hembusan AC yang sejuk dan pemandangan yang hijau. Terbangun kereta masih konsisten di rel, belum keluar jalur, apalagi blong kanan. Mungkin inilah yang membuat saya kurang begitu suka naik kereta, perjalanan serasa monoton (pendapat subyektif tentunya). Daripada bosan kita selfie dulu

Pukul 18.30 WIB akhirnya kereta touchdown di stasiun pasar senen, lebih lambat ±30 menit dari jadwal. Demikian report perjalanan saya menuju purwokerto, ingin rasanya kembali berkunjung kesana suatu saat nanti. Terima kasih