catatan mbolang
memaknai perjalanan dari sudut pandang yang berbeda
Wednesday, July 19, 2017
Monday, May 2, 2016
Pulang Kampung
Pulang kampung, begitulah tagline yg saya usung kali ini. Yap,
perjalanan saya kali ini menuju salah satu kota di ujung utara Jawa Tengah yang
terkenal akan kemewahan busnya. Jepara, itulah kota tujuan perjalanan saya kali
ini, sekaligus menjalankan kewajiban untuk menengok Ibu dan Bapak dirumah. Beberapa
hari terakhir saya mencari opsi bus yang akan saya tumpangi menuju Jepara. Setelah
ditimbang2 akhirnya pilihan dijatuhkan pada PO asal Ngabul, Jepara serta
berangkat dari Terminal Lebak Bulus.
Tanggal 12 April 2016 saya mencoba menghubungi Agen Lebak Bulus
untuk memesan tiket, langsung diangkat oleh ibu agen.
Saya: Bu, pesen nggo tanggal 14 ngarep iseh ono ora? (Bu, pesan untuk tanggal 14 seat depan masih ada tidak?)
Agen: Iseh mas, nggo wong piro? (Masih mas, untuk berapa orang?)
S: Siji wae bu, entuk nomer piro? (Satu saja bu, dapat nomor berapa?)
A: Nomer 4 yo mas, atas nama sopo? (Nomor 4 ya mas, atas nama siapa?)
S: Budi bu... Suwun nggih, sesuk tak tebuse rono. (Budi bu... Makasih ya, besok saya tebus kesana)
A: Sami2 mas (Sama2 mas)
Tiket keberangkatan sudah diamankan, menurut hitung2an sih dapat
armada yang itu, semoga tidak meleset. Tanggal 13 April 2016 saya tidak sempat
mampir untuk menebus tiket, biasanya sih tebus waktu berangkat tidak masalah,
kalaupun hangus ya siap untuk go show di hari H. Tanggal keberangkatan, 14
April 2016 siang hari saya sudah mulai packing. Pukul 14.30 WIB ada telp masuk
ternyata dari agen MD lebak bulus, mengkonfirmasi kepastian berangkat, saya
jawab sudah mau berangkat ke lebak bulus.
Pukul 15.00 WIB langit mulai gelap, dan tak lama kemudian hujan
turun dengan derasnya. Sampai dengan pukul 15.30 WIB belum ada tanda hujan akan
reda, saya segera pesan ojek online hanya untuk booking armada feeder ke lebak
bulus. Beberapa saat menunggu akhirnya ada panggilan masuk dari driver ojek,
dan saya pun berkata tidak usah buru2, coba tunggu 5-10 menit manakala hujan
mereda. Pukul 15.45 WIB hujan tak kunjung reda, saya pun inisiatif sms driver
ojek untuk segera menjemput, estimasi perjalanan menuju lebak bulus memakan
waktu 30-45 menit tergantung kondisi lalu lintas.
![]() |
| Hujan deras di sore hari |
Pukul 16.00 WIB ojek yg saya pesan tak kunjung muncul, harap2 cemas,
kuatir telat sampai lebak bulus, gak enak sama agen yg telah menyediakan 1
kursi untukku walaupun belum kutebus. Pukul 16.06 WIB akhirnya ojek yg saya
tunggu2 tiba. Segera saya menghampiri pak driver yg sigap memberikan jas hujan
kepadaku. Segera kupakai dan langsung naik ke motor, kuarahkan pak driver untuk
lewat jalan belakang agar terhindar dari kemacetan. Honda vario yg saya
tumpangi pun segera menjalankan tugasnya, berjalan standar karena hujan dan di
beberapa titik terdapat genangan air luapan selokan yg tak mampu menampung
limpahan air hujan.
Setelah mengarungi jalanan dengan ditemani hujan, akhirnya pukul 16.40
WIB kami sampai di pasar jumat. Segera saya turun dari ojek, mengembalikan jas
hujan dan membayar ongkos. Dengan berjalan cepat diiringi rintik hujan saya
menuju terminal darurat lebak bulus yg berada di sudut perempatan pasar jumat. Baru
berjalan beberapa langkah sudah ada calo yg sigap menghadangku, menawarkan berbagai
tujuan di jawa tengah dan timur. Kutolak dengan halus seraya berkata bahwa saya
telah memiliki tiket, tetapi ybs setengah memaksa saya untuk menunjukkan tiket
tersebut. Kulangkahkan kaki tanpa menghiraukan calo
tersebut menuju agen bus yang akan saya tumpangi.
Sampai di agen ternyata telah disiapkan tiket atas nama diriku,
segera kutebus dengan empat lembar uang berwarna biru, sang agen memberitahukan
untuk siap pemberangkatan jam 5. Kulihat armada telah sampai di terminal pasar
jumat, segera saja kuabadikan
![]() |
| Ex MD 077 |
Muji Jaya MD 004, Mercedez Benz OH 1525 with Air Suspension dengan
body Jetbus HD2 rombak garasi telah siap untuk mengantar para penumpang menuju
tujuan. Tepat sesuai perhitungan armada ini yang saya incar, dikarenakan sudah
pernah dapat MD 005 jadi pengen coba pasangannya MD 004. Masih ada waktu
sebelum berangkat, saya berinisiatif membeli mie cup untuk mengganjal perut
karena service makan di RM Aroma yang jaraknya cukup jauh, serta bayang2
kemacetan di tol JORR.
Pukul 17.10 WIB saya segera naik ke atas bus dan menempati seat
nomor 4, sebelah saya adalah seorang bapak2 yang akan menunaikan perjalanan ke
kampung halaman juga. Lihat sekeliling
interior bus rombakan ini sangat rapi, mungkin jika orang awam tidak
akan dapat membedakan. Dashboard sudah diganti generasi Jetbus, spion tanduk,
pintu belakang yang dipindah ke tengah, serta sekat untuk kabin sangat rapi.
Pukul 17.30 WIB bus resmi angkat jangkar dari terminal pasar jumat, menyusuri
kepadatan jalanan Jakarta di sore menjelang malam hari.
Kendali kemudi dipegang oleh Mas Samsul sebagai driver pinggir (perasaan
dulu Mas Samsul bawa MD 005 deh). Bapak di sebelah saya bilang bahwa sopir ini kencang
bawa busnya, menandakan beliau sudah sering wara wiri menggunakan jasa Muji
Jaya. Co Driver dengan sigap membagikan soft drink saja, tanpa ada mie cup yang
biasa jadi service snack MD, mungkin kehabisan atau ada kendala lain, semoga
layanan kecil seperti ini dapat dijalankan dengan konsisten. Bus dipacu
menyusuri kemacetan ibukota di sore hari, masuk tol JORR langsung berhenti
karena macet. Berjalan pelan2 akhirnya mulai lancar, bus dapat dipacu di jalan
tol. Masih di tol JORR bertemu dengan armada si hitam B39 jatah bogor, langsung
diseset dari kanan oleh mas samsul.
![]() |
| B39, Hino RK 8 with Air Suspension |
Perjalanan di tol cikampek malam itu ramai lancar, belum bertemu
kembali dengan kawan seperjalanan hingga masuk tol cipali. Di tol cipali
bertemu dengan Kramat Djati Jetbus HD2, langsung ditempel dan didahului oleh
mas samsul dari lajur kiri
Setelah mendahului Mbak KD, samar terlihat di depan ada teman
seperjalanan kembali. Setelah didekati ternyata Haryanto HR37, konon katanya
satu2nya spesies marco yang masih tersisa di HR.
![]() |
| HR 37 "Axelle" |
HR 37 didahului dengan mudah oleh mas samsul dari sebelah kiri.
Lepas dari HR, MD 004 dipacu konstan mengarungi tol cipali, tiba2 dari sebelah
kiri melaju kencang mendahului kami Nu3tara black pearl entah HS berapa, di
buritan hanya tertempel sticker kecil OH 1830 (tumben armada Pak Han
menempelkan sticker kode chassis di bodinya). Nu3tara tersebut geal geol
melewati beberapa truk di depan kami dan langsung menghilang di gelapnya malam
tol cipali.
Pukul 21.50 WIB bus diarahkan keluar tol Cirebon guna istirahat
service makan di RM Aroma. Baru keluar dari tol langsung membuntuti New
Shantika seri 2C “New Idol”, wah bukannya armada ini start muncul pukul 16.00
WIB, ada apa gerangan baru sampai disini.
Pantura Cirebon kami libas dengan membuntuti New Shantika
dikarenakan jalanan padat oleh truk, sampai akhirnya mas samsul sein kiri untuk
masuk ke RM Aroma. Segera saya turun untuk mengisi perut, hampir 5 jam waktu
yang kita tempuh dari Lebak Bulus membuat perut saya meminta untuk segera
diisi. Sedikit antrian untuk mendapatkan service makan malam, dan akhirnya menu
malam itu saya dapatkan
![]() |
| Service makan RM Aroma |
Berikut penilaian service makan di RM Aroma menurut saya:
Nasi: 7
Tumis Kacang Panjang: 7
Tempe: 7
Ayam Bumbu: 8
Sambal ijo: 7
Teh manis hangat: 7
Overall menurut saya jauh lebih baik daripada pendahulunya RM Uun di
Subang. Setelah melahap seisi piring dan gelas, segera saya ke depan untuk
melihat armada yang ada di RM saat itu. Ternyata MD 009 jatah Rawamangun dan
beberapa PK juga telah terparkir untuk memberi kesempatan penumpang
beristirahat dan menikmati makan malam. Mencoba mengabadikan barisan MD saat
itu
![]() |
| MD 004 & MD 009 |
![]() |
| Interior MD 004 |
Seat sangat nyaman untuk menopang tubuh kita, hanya saja untuk deret
paling depan tidak bisa selonjor full dikarenakan adanya sekat. Oh iya di
armada ini juga terdapat minibar jika penumpang menginginkan teh atau kopi
dapat membuat sendiri, letaknya di bagian belakang berdekatan dengan tempat
tidur sopir.
Pukul 22.30 WIB bus dijalankan kembali, meninggalkan saudara muda MD
009 yang masih memberikan kesempatan para penumpangnya untuk beristirahat. Bus dipacu
kencang namun halus, tidak memaksakan jika kondisi jalan buruk ataupun lalu
lintas padat. Inilah yang menurut saya nilai plus dari MD, pembawaan halus
namun kencang, waktu tempuh pun tidak beda jauh dari kompetitor di line muria
raya. Jadi ingat suatu kali ikut salah satu PO yang memiliki track record
sebagai bus paling banter se-indonesia raya, sepanjang perjalanan kurang dapat
beristirahat karena gemlodak kabin dan suspensi, serta cara bawa bus yang
kasar, padahal armada meskipun bukan yang terbaru tetapi lebih muda daripada
angkatan MD orange LB.
BTT, saya yang awalnya ingin menikmati nuansa pantura di malam hari
tidak tahan oleh buaian kabin yang sejuk dan ayunan suspensi udara membuatku
tak dapat menahan kantuk dan segera masuk ke alam mimpi. Terbangun ketika lalu
lintas tersendat di Batang, macet bareng NS yang tadi mendahului kami di Cipali
dan Shantika “New Idol”. Berjalan tersendat sampai pada ujung kemacetan,
ternyata perbaikan jalan sehingga menyisakan 1 lajur saja. Menjelang alas
roban, bus berbelok ke kanan melewati jalan baru. Hampir sampai di ujung jalan
baru, bus melambat dan berbelok ke kiri memasuki RM Sendang Wungu, klakson dari
NS terdengar menyapa kami, ternyata sejak dari Batang membuntuti kami. Bus berhenti
di depan checker MD, kulihat jam menunjuk pukul 02.00 WIB.
Setelah proses checker selesai, bus kembali dijalankan mengarungi
pantura. Saya pun kembali terlelap, seakan masih kurang waktu tidur selama
perjalanan. Terbangun kembali saat bus sudah memasuki wilayah Mayong, Jepara. Disini
beberapa penumpang sudah mulai turun sampai dengan kota Jepara. Pukul 04.45 WIB
akhirnya saya turun di Alun2 Kota Jepara, dan menuju ke rumah untuk
beristirahat.
Selama di rumah saya sempatkan untuk mengunjungi obyek wisata yang
sudah lama menjadi ikon Kota Jepara yaitu Pantai Kartini. Sayang sekali kondisi
obyek wisata ini terlihat sangat tidak terawat, sampah banyak berserakan,
fasilitas penunjang pun seperti dibiarkan tanpa perawatan. Memandangi Laut Jawa
yang tenang di sore hari memang menenangkan, ditemani sunset yang sangat indah.
Beberapa pedagang sudah mulai membereskan lapak dagang mereka. Sempat saya
abadikan gambar besama kakak dengan latar belakang Kura2 Ocean Park.
Tanggal 20 April 2016 saya harus kembali ke ibukota untuk suatu
tujuan. Mencoba menghubungi agen MD terminal Jepara untuk booking tiket
keberangkatan tanggal 21 April 2016. Tiket sudah diamankan tetapi sang agen
tidak berani mengambil resiko untuk kutebus saat berangkat. Ok saya langsung
mampir terminal Jepara untuk menebus tiket yang telah saya booking. Tiket tujuan
Rawamangun keberangkatan tanggal 21 April 2016 seat no 2 telah saya amankan.
Esok hari pukul 16.00 WIB saya sudah bersiap2 packing, berangkat
menuju terminal Jepara pukul 17.00 WIB dengan diantar oleh kakak. Sesampai di
terminal telah berbaris rapi armada MD untuk keberangkatan sore itu. Jatah Rawamangun
diisi oleh MD 009, Lebak Bulus MD 004, Poris MD 088, Bogor MD 007. Suasana terminal
telah sangat sepi, armada lain telah berangkat semua, menyisakan MD yang memang
berangkat habis maghrib.
Pukul 18.10 WIB seluruh penumpang MD dipersilahkan untuk naik ke
armada. Saya pun segera naik ke armada dan menempati seat no. 2, tepat pukul
18.15 WIB bus diberangkatkan dari terminal Jepara dengan driver Pak Tahu. Menyusuri jalanan kota Jepara, bus berhenti di sebuah perempatan,
ternyata driver pinggir Mas Supri naik dari sini, langsung dia memegang kendali
bus dan melanjutkan perjalanan. Bus kembali berhenti sejenak di Ngabul untuk menaikkan
paket, dan langsung berangkat kembali. Beberapa kali berhenti sepanjang jalan
Jepara – Kudus untuk menaikkan penumpang di agen, dan akhirnya sampai di
terminal Kudus pukul 19.30 WIB, suasana terminal sudah kosong, hanya tersisa MD
yang menaikkan penumpang dan segera berangkat kembali.
Lepas terminal Kudus mulai terlihat style dari Mas Supri, sangat
halus namun kencang. Sepanjang kudus – semarang tidak bertemu kawan, sudah
tertinggal dari teman2 seperjalanan. Masuk tol semarang bertemu dengan Rosalia
Indah, langsung didahului dengan smooth oleh mas supri.
Di lingkar kaliwungu MD 009 membuntuti Sari Mustika, mas supri
menempel tipis dan langsung goyang kiri untuk mendahului tetapi terhalang oleh
truk. Mas Supri tampak sedikit kesal karena Sari Mustika justru mempercepat
laju ketika kami meminta jalan. Untuk kedua kalinya kami pun menempel tipis
sekali dan goyang kiri untuk mendahului, tetapi kembali Sari Mustika malah
mempercepat laju dan kami terhalang truk di sebelah kiri. Saya pun terhenyak
dengan aksi mas supri ini sampai tidak sempat mengabadikan. Sampai di lampu
merah mas supri ambil bahu jalan untuk mendahului mobil yang antri.
Pukul 21.30 WIB kami sampai di RM Sendang Wungu untuk istirahat
service makan. Di belakang ternyata menyusul MD 004 dan MD 088, sedangkan MD 007
sudah sampai duluan. Segera saya turun untuk dan mengambil jatah service makan.
![]() |
| Service makan RM Sendang Wungu |
Berikut penilaian service makan di RM Sendang Wungu menurut saya:
Nasi: 6.5
Sayur: 6
Ayam Goreng: 6
Tahu goreng: 5.5
Teh manis: 6
Kekurangan yang lain menurut saya tidak disediakan garpu dan tisu.
Setelah makan, saya kembali menuju bus untuk membuat kopi, agar
badan terasa hangat di malam yang cukup dingin saat itu. Berikut penampakan
mini bar dalam kabin MD 009
Sembari menikmati kopi jepret dulu barisan MD di Sendang Wungu
![]() |
| MD 009, MD 004, MD 007 |
![]() |
| MD 009, Mercy OH 1626 |
Pukul 22.00 WIB bus siap untuk diberangkatkan kembali, kemudi
diambil alih oleh Pak Tahu selaku driver tengah. Bus berjalan cukup cepat standar
muriaan, jalanan lancar tak menyisakan lawan lagi karena armada lain sudah
cukup jauh di depan. Memasuki kota pemalang dihadang oleh kemacetan. Setelah antri
ternyata sumber kemacetan adalah rel kereta api yang rusak jalannya sehingga
banyak truk sangat berhati2 melewatinya.
Menjelang pertigaan tol pejagan terlihat barisan Rosalia Indah
berbaris rapi antri untuk belok kiri, pak tahu ambil kanan lurus melalui jalan
biasa. Berjalan beberapa saat terlihat di depan si hitam B11, langsung
didahului oleh pak tahu.
Saya kembali tertidur dan bangun ketika bus mengalami sedikit
goyangan, ternyata pak tahu mampir di RM Aroma dan mobil bergoyang saat
meninggalkan RM Aroma. Bus diarahkan masuk tol Cirebon, beberapa saat kemudian
kembali bertemu B11 yang kami dahului sebelum RM Aroma. Dengan klakson pendek
pak tahu menyapa sebagai tanda untuk berjalan duluan. Setelah itu kembali saya
terbuai ke alam mimpi, kabin yang senyap sangat mendukung untuk tertidur.
Setengah sadar ternyata sedang berhenti di gerbang tol cikopo untuk
pergantian driver, mas supri kembali memegang kendali, sementara pak tahu
istirahat ke belakang. Disini saya tidak tertidur lagi, tanpa malu2 mas supri
segera memaksimalkan tenaga OH 1626 yang dia kendarai. Sepanjang tol cikampek
terus geal geol mencari celah untuk mendahului mobil yang lebih lambat. Masuk tol
wiyoto wiyono masih terus dibejek sampai akhirnya keluar tol menuju Rawamangun.
Pukul 04.45 WIB MD 009 resmi finish di Terminal Rawamangun.
Saya segera menuju seberang terminal untuk membeli mie rebus,
rasanya perut sudah lapar lagi. Setelah melahap mie rebus, saya berjalan menuju
halte busway arion untuk menumpang transjakarta menuju lebak bulus. Setelah tap
kartu flazz, saya menunggu armada yang pagi itu akan mengantar saya.
![]() |
| Suasana Halte Transjakarta di pagi hari |
Tak lama bus datang, segera saya naik dan turun di halte matraman. Dari
halte matraman saya pindah bus yang menuju ke harmoni. Turun di halte sentral
harmoni, saya menuju tempat pemberangkatan bus tujuan lebak bulus. Sampai di
lebak bulus saya memesan jasa ojek online untuk mengantar saya menuju tujuan
akhir di pamulang. Pukul 08.10 saya sampai di Pamulang.
Terima kasih kepada armada dan crew MD 004 dan MD 009 telah
mengantarkan saya menuju tujuan dengan sensasi yang mengesankan. Next time
semoga dapat bertemu kembali.
Tuesday, April 12, 2016
Trip to Purwokerto
Sudah sejak lama saya ingin
mbolang menuju purwokerto. Kesan akan kota ini yang tenang, tidak terlalu
ruwet, dan aspek keterjangkauan dari Jakarta menjadi pertimbangan saya.
Mulailah saya mencari info, serta merencanakan detail perjalanan menuju kota
tersebut. Rencana awal perjalanan ini pp menggunakan transportasi favorit yaitu
bus, tetapi terbuka juga untuk model transport lain disesuaikan dengan waktu
dan efektivitas.
Untuk keberangkatan saya memilih
menggunakan bus sinar jaya, karena belum pernah mencoba PO yang satu ini, serta
keberangkatan bus ini pukul 18.00 tidak mengganggu aktivitas di siang hari.
Jumat, 1 April 2016 pukul 09.00 WIB saya
menuju kantor sinar jaya di lebak bulus, bermaksud untuk memesan tiket
pemberangkatan sore hari, tetapi oleh pihak kantor belum bisa memastikan karena
bus belum datang. Ok saya memutuskan untuk go show di sore harinya saja. Pukul
15.00 WIB saya berangkat dari rumah di pamulang menuju lebak bulus menggunakan
jasa ojek online, cukup 15rb untuk sampai di lebak bulus. Pukul 15.45 saya sampai di lebak bulus, segera
menuju loket sinar jaya dan memesan tiket tujuan purwokerto pemberangkatan
terakhir. Dijawab oleh pihak ticketing bahwa pemberangkatan terakhir tujuan
purwokerto pukul 18.30 untuk kelas bisnis ac dan 17.30 untuk kelas eksekutif.
Saya segera booking seat pemberangkatan pukul 17.30 nomor 1 dan 2.
Setelah tiket berhasil diamankan,
saya sejenak melihat pemandangan lebak bulus di sore hari. Eh ada penampakan
Muji Jaya MD 005, Mercedez Benz OH 1525 Jetbus HD2 rombak garasi.
Pukul 17.15 WIB partner touring
saya sampai juga di lebak bulus. Sebelum berangkat kami memutuskan untuk
mengisi perut terlebih dahulu dikarenakan sinar jaya tidak mendapatkan service
makan. Pukul 18.00 WIB bus tak kunjung datang, sudah molor 15 menit dari waktu
keberangkatan. Didapat info bahwa bus terjebak macet di tol (efek jumat sore),
sehingga penumpang dimohon sabar menunggu. Pukul 18.15 bus yang akan kami
tumpangi akhirnya sampai di lebak bulus, penumpang segera dipersilahkan untuk
naik ke dalam. Berikut penampakan busnya
Tidak bisa foto full body karena
parkir yang sempit dan banyak orang. Sinar Jaya yang saya tumpangi berkode
30RB, dapur pacu Hino RN 285, konon katanya sudah built in air suspension dari
pabrikan. Entah kenapa chasiss ini dibalut dengan tipe Jetbus Non HD dari Adi
Putro, padahal pendahulunya sudah banyak yang berbody HD baik RK atau RN.
Pukul 18.25 WIB bus resmi
diberangkatkan dengan okupansi 21 penumpang. Menyusuri jalan yang padat di
jumat malam, bus langsung masuk tol. Lalu lintas yang padat, serta ac yang pas
(tidak terlalu dingin) membuatku langsung tertidur. Bangun sudah masuk rest
area KM 19 untuk kontrol penumpang. Masuk tol kembali dengan speed yang slow,
kembali saya tertidur. Baru bangun masuk tol cipali, masih dengan speed yang
slow. Beberapa kali saya rasakan suspensi RN ini gemlodak ketika melibas jalan
yang kurang mulus, kurang tahu ada problem apa ataukah hanya perasaan saya
saja.
Di tol melaju dengan sangat
santai, aksi netral menemani sepanjang perjalanan. Baru beberapa KM beranjak
dari gerbang tol cikopo, langsung diseset Nu3tara black pearl entah HS berapa
dari sebelah kanan, sepertinya angkatan rawamangun. Nu3tara langsung hilang
ditelan gelapnya tol cipali. Melewati Taman Sari Cipali terlihat Nu3tara yang
tadi mendahului kami sedang istirahat service makan bersama dengan MJCM. Beberapa
saat kemudian kembali kami diasapi oleh duet New Shantika Rawamangun (SE dan
Seri 9) yang berjalan beriringan dan langsung menghilang.
Sekitar pukul 21.00 WIB bus exit
tol untuk istirahat di RM Taman Selera. Disini saya membeli mie cup seharga
10rb. RM ini sangat luas dan menjadi
tempat istirahat barisan sinar jaya, DMI, serta sumber alam. Sekitar 30 menit
waktu istirahat, bus kembali diberangkatkan. Pukul 21.30 WIB bus resmi angkat
jangkar meninggalkan RM Taman Selera, masih dengan driver pertama dan satu2nya
(baru tahu kalau ternyata sinar jaya menerapkan sistem sopir engkel). Bus
kembali dipacu dengan aksi netral di jalan tol, sampai akhirnya saya tertidur
kembali.
Bangun2 bus sudah masuk ke dalam
suatu rumah makan (entah RM apa), yap ini merupakan istirahat yang kedua pada
perjalanan kali ini. Melihat jam pukul 01.30, saya pun turun untuk sekedar
membeli kopi panas. Kembali mengabadikan si 30RB
Disini pula terjadi oper
penumpang antar bus sinar jaya dengan berbagai tujuan, sayangnya seperti tidak
terkoordinir dengan baik. Crew bus seperti tidak memperhatikan penumpang yang
akan oper bus, jadi penumpang sendiri yang mencari2 bus tujuannya masing2 (mungkin
perasaan saya saja ya, kalau penumpang SJ sepertinya sudah biasa, hehe).
Pukul 02.00 WIB bus resmi
diberangkatkan kembali, menyusuri jalan yang berkelok dan kontur yang tidak
mulus. Disini sangat terasa suspensi RN
gemlodak saat melibas jalan berlubang. Di jalan ini banyak kres dengan bus
diantaranya Rosalia Indah, Pahala Kencana, dan Lorena. Banyak penumpang yang
turun di sepanjang jalan sampai dengan kami tiba di Terminal Purwokerto. Kami
memutuskan turun di pintu masuk terminal karena jam masih menunjukkan pukul
04.00 WIB, langsung naik taksi dengan tujuan tempat istirahat. Tarif taksi
dalam kota purwokerto adalah 25rb.
Pagi hari kami berencana untuk
jalan2 ke Baturaden. Pukul 09.00 WIB kami sewa motor dengan biaya 115rb (24
jam). Dalam perjalanan menuju baturaden kami tertarik untuk mampir di tempat
yang menjual es duren. Letaknya ada di depan Korem Purbalingga, dan disebut Es
Duren Purbalingga. Satu porsi es duren dibandrol dengan harga 15rb rupiah,
harga yang cukup mahal menurut saya, hehe. Berikut penampakannya
Setelah kami coba es duren ini
ternyata tidak mengecewakan, sesuai dengan harga yang dibandrol (efek terlalu
dini menjustifikasi). Kualitas durian yang digunakan menurut saya sangat baik,
sehingga sangat terasa durennya.
Setelah makan es duren, kami
melanjutkan perjalanan menuju baturaden. Perjalanan menuju baturaden kami
tempuh sekitar 30 menit, dengan udara yang segar dan hawa yang sejuk. Sekitar
pukul 09.45 WIB kami sampai di baturaden. Segera kami parkir motor dan masuk ke
taman wisata, tentunya setelah beli tiket. Tiket untuk masuk taman wisata ini
dibandrol sebesar 14rb/ orang. Berikut penampakan taman wisata baturaden ini
Kami berjalan2 di taman ini, ada
berbagai macam wahana yang ditawarkan. Kami memutuskan untuk mencari pemandian
air panas belerang sehingga berjalan menuju pancuran tiga. Setelah sampai di
pancuran tiga, kami terkejut karena kolam pemandian cukup kecil dan diisi oleh
banyak orang. Kami pun memutuskan untuk jalan menuju pancuran tujuh. Diluar
dugaan, perjalanan menuju pancuran tujuh ini melalui jalan setapak yang sangat
sepi diantara hutan.
Lewatin sungai2 kecil yang jernih
Setapak demi setapak jalan ini
kami lalui, belum terlihat ada ujungnya. Pemandangan yang sangat indah sedikit
mengobati rasa lelah kita. Sampai akhirnya setelah bejalan kurang lebih 3KM
(based on perasaan) kami tiba di rest area (tol mana yak?), warung kecil yang
menjajakan beberapa makanan, dan kami beristirahat disitu. Penasaran karena
belum terlihat tanda2 pancuran tujuh, kami akhirnya menyerah dan bertanya
kepada penjaga warung. Dijawab oleh beliau bahwa pancuran tujuh masih sekitar
500 meter mengikuti jalan setapak. Sedikit view dari rest area
Hati kami teguhkan, kaki kami
kuatkan, nafas kami panjangkan untuk sampai di pancuran tujuh. Kembali jalan
setapak kami lewati, beberapa saat kemudian penantian panjang itupun akhirnya
terjawab, titik cerah gerbang masuk pancuran tujuh telah terlihat. Dan yang
terlihat di depan gerbang tersebut adalah parkiran saudara2. Banyak mobil dan
motor yang ada di parkiran tersebut. Kami hanya bisa melongo melihatnya, dan
usut punya usut ternyata untuk mencapai pancuran tujuh memang mostly
menggunakan kendaraan dikarenakan jarak dari bawah sekitar 6-7 KM, what???
Ah daripada mikir yang tidak2
lebih baik kita masuk saja, dan ternyata dikenakan tiket kembali sebesar 10rb/
orang. Yap masuk ke dalam masih jalan kembali ±200 meter, dan akhirnya dapat
melihat pancuran tujuh
Celingak celinguk tidak ada kolam
untuk mandi belerang, dan hanya ada kamar mandi yang disewakan sebesar 5rb/15
menit. Ok lah kita memutuskan untuk mandi belerang di tempat tersebut, ternyata
di depan kamar mandi ada yang menawarkan sekalian pijat dengan belerang, yasud
sekalian kita dipijat, kasihan kaki kami yang telah kami paksa kerja rodi untuk
mengantar kami. Skip setelah ritual lulur, pijat, dan berendam (air belerangnya panas bgt, tp lama2
terbiasa), kami pun kelaparan dan segera menuju warung yang banyak berada disitu. Dan menunya sudah
pasti mendoan, serta teman2nya (tahu, bakwan, singkong, pisang), ada juga mie
rebus atau goreng.
Setelah kenyang kami segera
kembali ke parkiran untuk turun ke bawah, katanya sih ada angkot menuju ke
bawah (gak kebayang kalo musti jalan lagi ke bawah). Yap sampai di parkiran
kita tanya sama bapak sopir angkotnya
Ane: ke bawah pak?
Sopir Angkot: ya iya lah, masa ya
iya donk
A: msh nggu penuh ya pak?
SA: namanya jg angkot, kalo gk
ngetem busway namanya
Dan pemirsa, belum ada satu pun
insan manusia di angkot tersebut. Ok lah mari kita coba untuk menunggu sambil
menyusun strategi, karena setahu saya yang sampai di atas jalan kaki ya cuma
kami, artinya orang lain akan turun menggunakan kendaraan mereka masing2, jika
digabungkan antara pernyataan 1 dan 2 akan menghasilkan kesimpulan bahwa angkot
tersebut tidak akan mungkin penuh penumpang. Sambil menunggu dan mengusir
kebosanan kita selfie dulu
Setelah menunggu sekitar 1.5 jam
tidak ada kemajuan yang berarti alias pak sopir menggantung status kita. Ok
berbekal muka tebal hasil masker belerang saya memberanikan diri meminta ijin
nebeng pada sebuah keluarga yang menggunakan mobil. Yap akhirnya saya berhasil
meyakinkan keluarga tersebut bahwa saya bukan kriminal dan mengijinkan kami
untuk ikut nebeng sampai bawah. Dan akhirnya kami melambaikan tangan kepada pak
sopir angkot dari mobil pick up yang membawa serta kami, kaburrr.
Melewati jalan turun naik,
berkelok, serta aspal yang rusak terobati dengan pemandangan yang disuguhkan,
pohon2 besar menjulang, sangat indah. Sampai di bawah kami turun dan tak lupa
berterima kasih banyak atas tumpangan yang diberikan. Karena hari sudah semakin
sore kami bergegas menuju parkiran motor dan segera kembali ke purwokerto.
Keesokan hari, 3 April 2016 kami
bangun pagi2 untuk sekedar ingin melihat suasana purwokerto di minggu pagi.
Rencana awal mau ke alun2 eh ternyata dari jauh sudah distop dikarenakan ada
acara car free day. Ok kita putar2 kota saja sampai akhirnya kita menemukan
sebuah taman namanya bale kemambang. Kami pun berhenti di taman itu, mau masuk
ternyata bayar tiket 2.5rb/ orang. Begini suasana taman di dalam
Banyak keluarga yang menghabiskan
waktu minggu pagi di taman ini. Menurut saya taman ini sangat bagus, bersih dan
terawat. Pengunjung bisa berjalan2 atau duduk santai di taman ini. Anak2
biasanya suka ngasih makan ikan yang ada di kolam, ikannya banyak banget.
Menjelang pukul 09.00 WIB kami bergegas kembali karena rencana kepulangan kami
pukul 12.12 WIB via stasiun purwokerto. Beres packing kami segera menuju jalan
untuk mencari transport umum menuju stasiun. Bertanyalah kami pada seseorang di
pinggir jalan, dan bak gayung bersambut beliau menawarkan kami untuk naik
becaknya (ternyata bapak driver becak) seharga 25rb untuk sampai di stasiun.
Kami terima tawaran beliau dan becak pun segera meluncur.
Pukul 11.00 WIB becak pun telah
sampai di stasiun, kami turun dan tak lupa berterima kasih (sambil bayar
tentunya, ini kan bukan nebeng lagi). Kami pun mengisi perut terlebih dahulu di
depan stasiun, antisipasi kelaparan di kereta. Menjelang pukul 12.00 WIB kami
segera masuk ke peron, tunjukkan tiket dan ID kita kepada petugas. Beberapa
view dalam stasiun
Terdengar pengumuman bahwa KA
Bogowonto tujuan Pasar Senen mengalami keterlambatan sekitar 40 menit. Ok kita
tunggu sambil melihat beberapa kereta yang lewat. Pukul 12.55 WIB akhirnya
kereta yang ditunggu2 datang juga. Kami segera masuk ke dalam gerbong dan
mencari tempat duduk kami. Beberapa saat kemudian kereta mulai berjalan
meninggalkan purwokerto menuju Jakarta. Cukup nyaman kereta berlabel ekonomi
ini, AC berfungsi cukup baik, penumpang pun tertib di tempat duduk masing2,
semoga pelayanan PT KAI dapat terus ditingkatkan.
Sepanjang perjalanan disuguhi
pemandangan sawah, kebun, dan perbukitan nan hijau. Kami pun segera terbuai ke
alam mimpi efek dari hembusan AC yang sejuk dan pemandangan yang hijau.
Terbangun kereta masih konsisten di rel, belum keluar jalur, apalagi blong
kanan. Mungkin inilah yang membuat saya kurang begitu suka naik kereta,
perjalanan serasa monoton (pendapat subyektif tentunya). Daripada bosan kita
selfie dulu
Pukul 18.30 WIB akhirnya kereta
touchdown di stasiun pasar senen, lebih lambat ±30 menit dari jadwal. Demikian
report perjalanan saya menuju purwokerto, ingin rasanya kembali berkunjung
kesana suatu saat nanti. Terima kasih
Subscribe to:
Posts (Atom)








































